Senin, 28 Agustus 2017

Essay: PERISTIWA MENGERIKAN, PENGALAMAN HIDUPKU

            Perkenalkan namaku Nanang Syaifudin. Saat menulis cerita ini adalah kurang lebih 2 tahun sejak peristiwa mengerikan itu terjadi.
            17 Maret 2014, hari itu adalah hari dimana aku mengalami peristiwa besar dan mengerikan di dalam hidupku yang membuat segala sesuatunya menjadi berbeda. Pagi hari itu aku dan temanku, Riyan berangkat PRAKERIN, kami melaksanakan PRAKERIN di sebuah usaha percetakan di Solo. Kami berangkat terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB dan kami sudah terlambat. Saat di tengah perjalanan kami mengalami kecelakaan, motor yang kami kendarai tersenggol oleh mobil box dan kami terlempar jauh di jalan. Kami pingsan tak sadarkan diri.
            Saat mata ini terbuka banyak orang disekelilingku, ibuku menangis, kakak dan pamanku juga berada disitu. Ternyata saat itu aku sudah berada di ruang UGD rumah sakit. Kondisiku luka parah, aku mengalami patah tulang tangan kanan, retak di tulang belakang serta kelumpuhan dan harus segera dilakukan tindakan operasi. Saat itu aku tidak memikirkan hal yang lain karena yang ada dalam benakku hanya menahan pedihnya rasa sakit yang kuderita. Kondisi Riyan aku juga tidak tahu, apakah dia selamat atau juga dirawat seperti aku.
            Sebulan aku dirawat di rumah sakit, sanak saudara, teman-teman, serta bapak dan ibu guru menjengukku. Mereka datang untuk memberi semangat dan motivasi agar aku lekas sembuh agar tetap bisa melanjutkan hidup. Aku dirawat 2 minggu di ruang ICU dan 2 minggu di ruang rawat inap. Selama di rumah sakit, ibuku yang selalu merawat dan menjagaku. Dia yang selalu terjaga disaat aku tertidur, dia yang menyuapiku saat aku ingin makan, dan dialah orang yang selalu ada untukku.
            Alhamdulillah aku sudah boleh pulang. Tetapi dengan keadaanku yang masih lumpuh itu membuatku merasa sangat sedih. Aku pulang kerumah diantar menggunakan ambulan, sesampainya di rumah ternyata sanak keluarga dan para tetangga sudah menunggu di rumahku, mereka sangat peduli dan pengertian kepadaku.
            Saat dirumah aku baru mengetahui bahwa Riyan telah meninngal dunia saat peristiwa kecelakaan itu terjadi. Ternyata selama aku di rumah sakit, semua orang merahasiakannya dariku dengan tujuan agar aku tidak memikirkan hal-hal yang mungkin membuatku menjadi sedih dan terbebani.
            7 bulan pasca operasi aku masih hanya tidur di ranjang dan belum bisa berjalan, semua itu membuatku putus asa dan hilang semangat. Di saat terpuruk itu, ibuku yang selalu memberi nasihat dan motivasi agar aku tidak menyerah dengan keadaan dan harus selalu berusaha untuk sembuh. Setiap hari aku selalu berusaha dengan latihan menggunakan kursi roda, latihan berjalan dan semua itu dibantu oleh orang terhebatku yaitu ibuku. Alhamdulillah berkat do’a dan usaha akhirnya aku bisa berjalan walau masih dengan bantuan alat medis, tetapi tangan kananku masih lemah dan sulit untuk digerakkan.
            Dan disaat aku sudah bisa berjalan walau belum normal, aku teringat akan temanku Riyan. Aku belum sempat memberikan penghormatan terakhir untuknya. Akhirnya aku mengajak ibuku menjenguk makam temanku Riyan untuk berziarah dan mendo’akannya agar dia tenang disisi Alloh.
            Pihak sekolah menanyakan keadaanku, apakah aku mau melanjutkan sekolah atau tidak. Dengan keadaanku yang masih belum normal membuatku malu untuk bertemu dengan teman-teman dan orang-orang di sekolah. Teman-teman dan bapak ibu guru memberi motivasi agar aku mau sekolah lagi, ibuku juga memberi nasihat agar aku melanjutkan sekolah karena pendidikan adalah hal yang paling utama dan kondisi fisik bukanlah hal yang menghalangi untuk meraih prestasi.
            Akhirnya walau saat ini keadaanku masih belum normal, tetapi alhamdulillah sekarang aku sudah melanjutkan sekolah lagi walau masih harus diantar jemput oleh ibuku. Dan respon dari teman-teman serta bapak dan ibu guru sangatlah baik kepadaku. Mereka dapat menerima aku dengan apa adanya, dan mereka juga membimbingku dengan baik.
            Semua peristiwa yang kualami mungkin bisa menjadi pelajaran dan pengalaman hidupku agar selanjutnya aku bisa melakukan hal yang lebih baik lagi.
                Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita terus berdo’a dan berusaha. Dan ibu adalah orang yang selalu ada untuk kita. Yakinlah bahwa semua itu akan indah pada waktunya.

Minggu, 27 Agustus 2017

Essay: Tantangan Mempertahankan Eksistensi Budaya Sendiri di Era Globalisasi

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Di era globalisasi, melestarikan dan mempertahankan eksistensi budaya tradisi tentunya menjadi masalah sekaligus tantangan bagi generasi bangsa. Budaya asing yang mulai masuk dan merambah ke berbagai lapisan masyarakat termasuk para generasi penerus bangsa sehingga membuat mereka terpengaruh dan terlena bahkan menjadikannya hal yang wajar-wajar saja di kalangan remaja. Berikut ini beberapa contoh fenomena pengaruh budaya asing terhadap generasi bangsa yang kian melunturkan nilai-nilai budaya dan rasa cinta tanah air, seperti;
1. Para kawula muda lebih suka berpenampilan layaknya artis luar negeri daripada menggunakan pakaian tradisional.
2. Para kawula muda lebih suka mendengarkan lagu-lagu barat dibandingkan mendengarkan lagu kebangsaan dan lagu daerah.
3. Para kawula muda lebih suka menonton film korea daripada membaca dan menonton film cerita rakyat.
4. Para kawula muda lebih suka berbahasa yang digaya dan kebarat-baratan daripada menggunakan bahasa indonesia.
Hal-hal demikian tentunya menjadi PR dan tantangan bagi para generasi bangsa dalam upaya tetap mewujudkan eksistansi budaya bangsa di seluruh lapisan masyarakat terutama di kalangan remaja. Berikut ini beberapa upaya untuk tetap mempertahankan eksistensi budaya, antara lain :
1. Paling tidak kita mengetahui tentang budaya jaman dahulu didaerah kita sendiri.
2. Kemudian mendalami kebudayaan itu.Setelah itu kita wajib memperkenalkan kepada orang lain atau yang belum tahu tentang kebudayaan tersebut syukur-syukur sampai ke negara lain.
3. Membiasakan hal-hal atau kegiatan yang dapat melestarikan budaya seperti memakai batik atau bahkan belajar membuat batik,karena pelestarian bisa terjadi karena kita telah terbiasa dengan kebudayaan tersebut.
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa budaya asing dapat memberikan pengaruh negatif sehingga dapat melunturkan nilai-nilai budaya sendiri dan mengurangi rasa cinta tanah air bahkan mengiksnya hingga hilang tidak tersisa. Oleh karena itu, msyarakat terutama generasi penerus bangsa hendaknya memperketat penjagaan diri dan lebih menambah wawasan mengenai budaya tradisi guna menciptakan rasa bangga dan percaya diri akan budaya sendiri serta meningkatkan rasa cinta tanah air.