Minggu, 27 Agustus 2017

Essay: Tantangan Mempertahankan Eksistensi Budaya Sendiri di Era Globalisasi

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Di era globalisasi, melestarikan dan mempertahankan eksistensi budaya tradisi tentunya menjadi masalah sekaligus tantangan bagi generasi bangsa. Budaya asing yang mulai masuk dan merambah ke berbagai lapisan masyarakat termasuk para generasi penerus bangsa sehingga membuat mereka terpengaruh dan terlena bahkan menjadikannya hal yang wajar-wajar saja di kalangan remaja. Berikut ini beberapa contoh fenomena pengaruh budaya asing terhadap generasi bangsa yang kian melunturkan nilai-nilai budaya dan rasa cinta tanah air, seperti;
1. Para kawula muda lebih suka berpenampilan layaknya artis luar negeri daripada menggunakan pakaian tradisional.
2. Para kawula muda lebih suka mendengarkan lagu-lagu barat dibandingkan mendengarkan lagu kebangsaan dan lagu daerah.
3. Para kawula muda lebih suka menonton film korea daripada membaca dan menonton film cerita rakyat.
4. Para kawula muda lebih suka berbahasa yang digaya dan kebarat-baratan daripada menggunakan bahasa indonesia.
Hal-hal demikian tentunya menjadi PR dan tantangan bagi para generasi bangsa dalam upaya tetap mewujudkan eksistansi budaya bangsa di seluruh lapisan masyarakat terutama di kalangan remaja. Berikut ini beberapa upaya untuk tetap mempertahankan eksistensi budaya, antara lain :
1. Paling tidak kita mengetahui tentang budaya jaman dahulu didaerah kita sendiri.
2. Kemudian mendalami kebudayaan itu.Setelah itu kita wajib memperkenalkan kepada orang lain atau yang belum tahu tentang kebudayaan tersebut syukur-syukur sampai ke negara lain.
3. Membiasakan hal-hal atau kegiatan yang dapat melestarikan budaya seperti memakai batik atau bahkan belajar membuat batik,karena pelestarian bisa terjadi karena kita telah terbiasa dengan kebudayaan tersebut.
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa budaya asing dapat memberikan pengaruh negatif sehingga dapat melunturkan nilai-nilai budaya sendiri dan mengurangi rasa cinta tanah air bahkan mengiksnya hingga hilang tidak tersisa. Oleh karena itu, msyarakat terutama generasi penerus bangsa hendaknya memperketat penjagaan diri dan lebih menambah wawasan mengenai budaya tradisi guna menciptakan rasa bangga dan percaya diri akan budaya sendiri serta meningkatkan rasa cinta tanah air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Terima kasih atas kunjungannya"