Kebudayaan
sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw
Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah
untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Menurut Edward Burnett
Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Sedangkan menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah
sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi
tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang
akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai
makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Di
era globalisasi, melestarikan dan mempertahankan eksistensi budaya tradisi
tentunya menjadi masalah sekaligus tantangan bagi generasi bangsa. Budaya asing
yang mulai masuk dan merambah ke berbagai lapisan masyarakat termasuk para
generasi penerus bangsa sehingga membuat mereka terpengaruh dan terlena bahkan
menjadikannya hal yang wajar-wajar saja di kalangan remaja. Berikut ini
beberapa contoh fenomena pengaruh budaya asing terhadap generasi bangsa yang
kian melunturkan nilai-nilai budaya dan rasa cinta tanah air, seperti;
1. Para
kawula muda lebih suka berpenampilan layaknya artis luar negeri daripada
menggunakan pakaian tradisional.2. Para kawula muda lebih suka mendengarkan lagu-lagu barat dibandingkan mendengarkan lagu kebangsaan dan lagu daerah.
3. Para kawula muda lebih suka menonton film korea daripada membaca dan menonton film cerita rakyat.
4. Para kawula muda lebih suka berbahasa yang digaya dan kebarat-baratan daripada menggunakan bahasa indonesia.
Hal-hal
demikian tentunya menjadi PR dan tantangan bagi para generasi bangsa dalam
upaya tetap mewujudkan eksistansi budaya bangsa di seluruh lapisan masyarakat
terutama di kalangan remaja. Berikut ini beberapa upaya untuk tetap
mempertahankan eksistensi budaya, antara lain :
1. Paling tidak kita mengetahui tentang budaya jaman
dahulu didaerah kita sendiri.2. Kemudian mendalami kebudayaan itu.Setelah itu kita wajib memperkenalkan kepada orang lain atau yang belum tahu tentang kebudayaan tersebut syukur-syukur sampai ke negara lain.
3. Membiasakan hal-hal atau kegiatan yang dapat melestarikan budaya seperti memakai batik atau bahkan belajar membuat batik,karena pelestarian bisa terjadi karena kita telah terbiasa dengan kebudayaan tersebut.
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan
bahwa budaya asing dapat memberikan pengaruh negatif sehingga dapat melunturkan
nilai-nilai budaya sendiri dan mengurangi rasa cinta tanah air bahkan
mengiksnya hingga hilang tidak tersisa. Oleh karena itu, msyarakat terutama
generasi penerus bangsa hendaknya memperketat penjagaan diri dan lebih menambah
wawasan mengenai budaya tradisi guna menciptakan rasa bangga dan percaya diri
akan budaya sendiri serta meningkatkan rasa cinta tanah air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Terima kasih atas kunjungannya"