Dalam
kehidupan, manusia diciptakan dengan segala kesempurnaannya oleh sang Maha Pencipta dengan kata lain jauh dari kekurangan dibandingkan dengan
makhluk lainnya
tetapi terkadang sebagian dari mereka belum atau bahkan tidak beruntung
mendapatkannya dengan berbagai alasan
seperti terlahir dengan keadaan kurang sempurna, akibat tragedi kecelakaan yang
menyebabkan kerusakan jaringan tubuh, pasca sakit, dan lainnya yang
mengakibatkan keterbatasan dalam bergerak, bertindak, dan berkarya. Mereka
dijuluki sebagai difabel (Different Ability People),
yang artinya orang yang berbeda kemampuan atau seorang penyandang
cacat, yang tidak seberuntung manusia normal pada umumnya. Lantas apakah mereka
harus berputus asa dan meratapi nasib
terhadap ketidakberuntungannya yang sudah menjadi garis
hidup dan takdir dari sang pencipta? Seorang difabel bisa saja dikatakan kurang
beruntung ataupun seseorang dengan keterbatasan namun mereka mempunyai banyak
kesempatan untuk mengubah dan memperbaiki ketidakberuntungannya bahkan mereka bisa melampaui batasan
itu dengan melakukan hal-hal yang bahkan
di luar pemikiran orang pada umumnya
atau lebih tepatnya genius. Begitu banyak pejuang
demi pergerakan dunia yang maju berasal dari orang-orang difabel. Mereka telah
membuktikan bahwa kekurangan bukanlah hambatan namun dari kekurangan tersebut
mereka jadikan kekuatan untuk bangkit, berjuang, bersaing, berprestasi,
berkarya dan menunjukkannya kepada dunia bahwa mereka bisa dan mampu menjadi
kepercayaan dunia dalam menjadi tolak ukur serta ujung tombak perjuangan dan
perdamaian dunia melalui beragam terobosan dan pemikiran yang genius dan begitu luar biasa.
Beberapa dari mereka telah berhasil dan memaparkannya sehingga menjadi suatu
prestasi yang begitu luar biasa yang pastinya juga diinginkan dan didambakan
setiap insan. Kaki yang tak bisa menyentuh
lembutnya tanah,
tangan yang tidak bisa bergerak dengan gemulainya, mulut yang kurang
fasih dalam mengucapkan lantunan tutur
kata, mata yang kurang jelas dalam melihat paras dunia, telinga yang kurang tajam dalam mengupas suara bergema, dan bahkan pikiran dan mental yang terkadang kurang
sesuai yang diharapkan, serta segala ketidaksempurnaan,
mereka jadikan kekuatan dan semangat dalam melawan pencapaian keberhasilan. Mereka di antaranya seperti
Ratna Indraswari Ibrahim, seorang penulis dan sastrawan yang hebat walaupun dengan
kelumpuhan dan kecacatan kakinya, M.
Ade Irawan, penyandang tunanetra yang menjadi pianis handal kelas dunia, dan Angkie
Yudistia dengan segudang prestasi
walaupun memiliki keterbatasan dalam pendengaran. Merekalah
tokoh-tokoh berkebutuhan khusus dendan pekiran dan pencapaian yang genius.
Seorang
difabel yang telah membuktikannya
kepada dunia bahwa keterbatasan bukanlah sebuah hambatan dalam meraih impiannya dan merupakan seorang penulis serta sastrawati dengan pencapaian yang luar biasa
yaitu Ratna Indraswari
Ibrahim. Perempuan yang dilahirkan di Malang, Jawa Timur,
pada 21 April 1949 yang
mengalami kelumpuhan sejak usia 10 tahun. Karena kelumpuhannya itu, Ratna terus
menggunakan kursi roda. Ia mengaku
sempat terpuruk dan mengalami kemarahan saat usianya beranjak remaja. Ratna
bahkan sempat tidak percaya akan adanya Tuhan dan menjadi atheis. "Tapi
ternyata Tuhan itu ada..," simpulnya, setelah
menjalani kehidupan lebih dari 50 tahun. Ratna dibesarkan di keluarga yang
cinta akan buku, dan diperkenalkan oleh ayahnya dengan bacaan-bacaan yang berat
sejak usia 6 tahun. Perempuan ini kemudian menemukan jalan hidupnya dalam dunia
tulis-menulis dan sastra. "Dunia tulis-menulis itulah jalan saya,"
katanya. Dalam berkarya, Ratna dibantu asistennya untuk mengetikkan ide-ide pikiran dalam membuat cerpen atau novel yang
dia lontarkan sehingga ia kerap dijuluki
sebagai sastrawan lisan. Dia
menulis puisi, novel, dan cerpen. Akan tetapi, karya yang terbanyak adalah
cerpen, sudah ada sekitar 400
cerpen yang dilahirkannya. Cerpennya dimuat di berbagai media massa, seperti
Kompas, Surabaya Post, Jawa Post, Suara Pembaharuan, Kartini, Sarinah, Basis,
Horison, Femina, Republika, dan Pikiran Rakyat. Buku berjudul Menjelang Pagi
(Balai Pustaka, 1994) merupakan kumpulan cerpen pertamanya yang diterbitkan.
Kecintaannya akan buku juga membuatnya mendirikan toko buku 'Tobuki, Toko Buku
Kita' di sebelah rumahnya. "Saya ingin menjadi seperti Virginia
Woolf," jawab Ratna, jika diberi kesempatan untuk mengulang waktu.
"Dan, karena itu, saya ingin lebih tekun menulis...," imbuhnya.
Virginia Woolf adalah penulis Inggris dan tokoh feminis. Selain menulis, Ratna
juga mendirikan organisasi dan kerap berdiskusi dengan aktivis, seniman dan
mahasiswa di Kota Malang.Hingga pada tahun 2011, Ratna terserang stroke dengan
komplikasi penyakit jantung dan paru-paru hingga akhirnya menghembuskan nafas
terakhir pada Senin, 28 Maret 2011 di RS Saiful Anwar, Malang. Ratna
meninggalkan novel yang belum selesai dan belum berjudul mengenai romantika
aktivis di era reformasi tahun 1998.
Tokoh difabel hebat selanjutnya
adalah M. Ade Irawan, seorang penyandang tunanetra. Dengan
keterbatasan dan
ketidaksepurnaanya, dia mempertajam penggunaan
indera-indera lainnya. Ade lahir dari pasangan Endang Dewi Mardeyani dan Irawan
Subagyo pada 15 Januari 1994 di Colchester, Inggris. Kendati sempat terguncang,
orang tua Ade menerima kondisi Ade dan selalu mendukungnya. Ibundanya, Endang, pada penghujung
1995 mendapatkan beasiswa master di universitas ternama di New York, AS hingga
1999, dan mendapati putra kecilnya aktif dan senang meraba-raba alat musik
perkusi seperti kendang. Kembali ke Indonesia tahun 1999, Ade yang saat itu diajak
orang tuanya jalan ke mal, Ade menekan tuts piano dan berbunyi. Spontan, Ade
langsung meminta dibelikan alat musik itu. Satu keyboard Casio pun mulai
menjadi teman Ade saat usia 7 tahun. Ade kemudian mengagumi musisi jazz George
Benson dan setahun kemudian, dia memutuskan memilih jazz sebagai musik
pilihannya. Bakatnya semakin terasah saat mengikuti ibundanya yang bertugas di
Chicago, AS tahun 2004. Chicago merupakan tempat para berkumpul musisi blues
dan jazz di dunia. Ibu Ade kemudian sering membawa putranya bermain di
kafe-kafe dan untuk bertemu teman-teman sesama musisi. Menginjak usia belasan
tahun permainan piano Ade makin luar biasa dan tampil di Chicago Winter Jazz
Festival pada tahun 2006 dan 2007, saat usianya 12 tahun. Ade juga
mengkuti audisi khusus dengan musisi jazz Amerika Serikat, seperti Coco
Elysses-Hevia, Peter Saxe, Ramsey Lewis, John Faddis, Dick Hyman, Ryan Cohen,
dan Ernie Adams. Ade mempelajari huruf braille Farnsworth School plus pianis
tetap pada acara musik di sekolah itu dan di Jazz Links Jam Session (Jazz
Institute of Chicago) di Chicago Cultural Center. Musisi jazz dalam negeri
seperti Idang Rasjidi, Indra Lesmana, Bubi Chen hingga bos Museum Rekor
Indonesia (MURI) Jaya Suprana juga memberinya perhatian. Jaya membuatkan Ade pagelaran
resital tunggal pada Juni 2010 l, dan menjulukinya Ade 'Wonder' Irawan, merujuk
musisi tunanetra, Stevie Wonder. Ade juga menjadi penampil pada Java Jazz Festival
2010. Berulang kali dia diundang untuk mengikuti jam
session bersama musisi-musisi jazz di negeri Paman Sam. Salah satunya di
World Stage Community yang merupakan komunitas jazz kulit hitam kondang di Los
Angeles, Amerika dan dia
satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Ade telah
melanglang buana dan membuktikannya kepada dunia bahwa dia
adalah pianis handal walaupun berkebutuhan khusus.
Difabel dengan segudang prestasi
selanjutnya
adalah Angkie Yudistia, penyandang tunarungu sejak usia 10 tahun namun hal itu
tak membuatnya menyerah dalam
menjalani hidup. Meski berat, ia mampu menyelesaikan pendidikannya di sekolah
umum sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Keterbatasan Angkie itu
menimbulkan banyak masalah selama belajar di SD hingga SMA. Tak jarang ia
mengaku sering kali menerima cacian dan hinaan. Ketika itu, rasa malu
memang membuat Angkie menutupi jati dirinya sebagai penyandang tunarungu.
"Dulu aku diledekin, dikatain budek, tuli itu sering banget di
lingkungan," ungkapnya seperti dikutip dari detikhot, Selasa, 8 Mei 2012
lalu. Angkie kemudian menyelesaikan studinya di jurusan periklanan di London
School of Public Relations (LSPR),
Jakarta, dan lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,5. Di kampus yang sama,
Angkie bahkan telah meraih gelar master setelah lulus dari bidang komunikasi
pemasaran lewat program akselerasi. Semasa kuliah, Angkie pun selalu aktif
dalam berbagai kegiatan. Ia merupakan finalis Abang None mewakili wilayah
Jakarta Barat pada 2008. Selain itu ia juga berhasil terpilih sebagai The Most
Fearless Female Cosmopolitan 2008, serta Miss Congeniality dari Natur-e, serta
berbagai prestasi lainnya. Bungsu dari dua bersaudara itu pernah pula berkarier
sebagai humas di berbagai perusahaan. Berbagai prestasi dan semangatnya itulah
yang pada akhirnya membuat Angkie tergerak untuk memotivasi para penyandang
difabel lainnya. Angkie mulai terlibat dengan kegiatan sosial saat bergabung
dengan Yayasan Tunarungu Sehijara pada 2009. Sejak saat itu hingga kini, ia pun
kerap jadi pembicara dan menjadi delegasi Indonesia di berbagai kegiatan
internasional di mancanegara yang berkaitan dengan kaum difabel. Di usianya
yang masih 25 tahun, Angkie sudah menjadi founder dan CEO (chief executive
officer) Thisable Enterprise. Perusahaan yang didirikan bersama rekannya itu fokus
pada misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik
alias difabel (Different Ability People). "Di balik keterbatasan pasti ada
kelebihan. Walaupun aku terbatas mendengar, bukan berarti harus terbatas
melakukan apapun. Aku ingin menunjukkan semua batas harus ditembus, karena
setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," ungkapnya seraya tersenyum.
Kepeduliannya itu
pun terus berlanjut dengan meluncurkan buku berjudul 'Invaluable Experience to
Pursue Dream' (Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas) akhir 2011 lalu. Pengalaman
hidup dan pemikirannya dituangkan lewat karyanya itu. "Buku itu bukan
hanya ditujukan untuk penyandang difable saja, tapi juga teman-teman lainnya
yang normal. Kita memang beda, tapi bukan untuk dibedakan," sambungnya
menegaskan.
Setiap
manusia selalu menginginkan keberhasilan dan keberuntungan baik fisik, psikis,
finansial, kecukupan hidup di dunia,
dan lainnya namun sebagian dari mereka terkadang tidak mendapatkan
keberuntungan tersebut karena
sudah sudah menjadi garis hidup dan takdir dari sang pencipta. Bagi orang-orang yang penuh akan semangat, keterbatasan bukanlah
alasan untuk menghambat terwujudnya
keberhasilan itu. Mereka telah menunjukkan dan membuktikan kepada dunia dengan
beragam prestasi yang begitu membanggakan dan bahkan tetcatat dan diakui dunia
seperti Ratna Indraswari Ibrahim, seorang penulis dan sastrawan yang hebat walaupun dengan
kelumpuhan dan kecacatan kakinya, M.
Ade Irawan, penyandang tunanetra yang menjadi pianis handal kelas dunia, dan Angkie
Yudistia dengan segudang prestasi
walaupun memiliki keterbatasan dalam pendengaran. Tokoh-tokoh difabel tersebut adalah
contoh dan bukti bahwa keterbatasan tidak menjadi hambatan dalam mewujudkan
impian. Kekurangan yang dimiliki bukan menjadi bahan peratapan nasib dan
penyesalan keadaan namun mereka menjadikannya sebagai kekuatan untuk bangkit,
berjuang, bersaing, berprestasi, berkarya dan menunjukkannya kepada dunia bahwa
mereka bisa dan mampu menjadi kepercayaan dunia dengan peikiran serta
pencapaian yang bisa
dikatakan genius.
DAFTAR PUSTAKA
1. Lestari, Dwi Sri (2015). Penyesuaian Sosial pada Mahasiswa Difabel Rungu.
Yogyakarta:UIN Sunan Kalijaga.
2.
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
3. http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Ratna_Indraswari_Ibrahim |
Ensiklopedia Sastra Indonesia - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
4. https://www.liputan6.com/news/read/3058562/ade-irawan-terlahir-buta-kini-jadi-pianis-kelas-dunia