Selasa, 14 Mei 2019

Essay: Pencapaian Genius dari Tokoh Berkebutuhan Khusus


Dalam kehidupan, manusia diciptakan dengan segala kesempurnaannya oleh sang Maha Pencipta dengan kata lain jauh dari kekurangan dibandingkan dengan makhluk lainnya tetapi terkadang sebagian dari mereka belum atau bahkan tidak beruntung mendapatkannya dengan berbagai alasan seperti terlahir dengan keadaan kurang sempurna, akibat tragedi kecelakaan yang menyebabkan kerusakan jaringan tubuh, pasca sakit, dan lainnya yang mengakibatkan keterbatasan dalam bergerak, bertindak, dan berkarya. Mereka dijuluki  sebagai difabel (Different Ability People), yang artinya orang yang berbeda kemampuan atau seorang penyandang cacat, yang tidak seberuntung manusia normal pada umumnya. Lantas apakah mereka harus berputus asa dan meratapi nasib terhadap ketidakberuntungannya yang sudah menjadi garis hidup dan takdir dari sang pencipta? Seorang difabel bisa saja dikatakan kurang beruntung ataupun seseorang dengan keterbatasan namun mereka mempunyai banyak kesempatan untuk mengubah dan memperbaiki ketidakberuntungannya bahkan mereka bisa melampaui batasan itu  dengan melakukan hal-hal yang bahkan di luar pemikiran orang pada umumnya atau lebih tepatnya genius. Begitu banyak pejuang demi pergerakan dunia yang maju berasal dari orang-orang difabel. Mereka telah membuktikan bahwa kekurangan bukanlah hambatan namun dari kekurangan tersebut mereka jadikan kekuatan untuk bangkit, berjuang, bersaing, berprestasi, berkarya dan menunjukkannya kepada dunia bahwa mereka bisa dan mampu menjadi kepercayaan dunia dalam menjadi tolak ukur serta ujung tombak perjuangan dan perdamaian dunia melalui beragam terobosan dan pemikiran yang genius dan begitu luar biasa. Beberapa dari mereka telah berhasil dan memaparkannya sehingga menjadi suatu prestasi yang begitu luar biasa yang pastinya juga diinginkan dan didambakan setiap insan. Kaki yang tak bisa menyentuh lembutnya tanah, tangan yang tidak bisa bergerak dengan gemulainya, mulut yang kurang fasih dalam mengucapkan lantunan tutur kata, mata yang kurang jelas dalam melihat paras dunia, telinga yang kurang tajam dalam mengupas suara bergema, dan bahkan pikiran dan mental yang terkadang kurang sesuai yang diharapkan, serta segala ketidaksempurnaan, mereka jadikan kekuatan dan semangat dalam melawan pencapaian keberhasilan. Mereka di antaranya seperti Ratna Indraswari Ibrahim, seorang penulis dan sastrawan yang hebat walaupun dengan kelumpuhan dan kecacatan kakinya, M. Ade Irawan, penyandang tunanetra yang menjadi pianis handal kelas dunia, dan Angkie Yudistia dengan segudang prestasi walaupun memiliki keterbatasan dalam pendengaran. Merekalah tokoh-tokoh berkebutuhan khusus dendan pekiran dan pencapaian yang genius.
Seorang difabel yang telah membuktikannya kepada dunia bahwa keterbatasan bukanlah sebuah hambatan dalam meraih impiannya dan  merupakan seorang penulis serta sastrawati dengan pencapaian yang luar biasa yaitu Ratna Indraswari Ibrahim. Perempuan yang dilahirkan di Malang, Jawa Timur, pada 21 April 1949 yang mengalami kelumpuhan sejak usia 10 tahun. Karena kelumpuhannya itu, Ratna terus menggunakan kursi roda. Ia mengaku sempat terpuruk dan mengalami kemarahan saat usianya beranjak remaja. Ratna bahkan sempat tidak percaya akan adanya Tuhan dan menjadi atheis. "Tapi ternyata Tuhan itu ada..," simpulnya, setelah menjalani kehidupan lebih dari 50 tahun. Ratna dibesarkan di keluarga yang cinta akan buku, dan diperkenalkan oleh ayahnya dengan bacaan-bacaan yang berat sejak usia 6 tahun. Perempuan ini kemudian menemukan jalan hidupnya dalam dunia tulis-menulis dan sastra. "Dunia tulis-menulis itulah jalan saya," katanya. Dalam berkarya, Ratna dibantu asistennya untuk mengetikkan ide-ide pikiran dalam membuat cerpen atau novel yang dia lontarkan sehingga ia kerap dijuluki sebagai sastrawan lisan. Dia menulis puisi, novel, dan cerpen. Akan tetapi, karya yang terbanyak adalah cerpen, sudah ada sekitar 400 cerpen yang dilahirkannya. Cerpennya dimuat di berbagai media massa, seperti Kompas, Surabaya Post, Jawa Post, Suara Pembaharuan, Kartini, Sarinah, Basis, Horison, Femina, Republika, dan Pikiran Rakyat. Buku berjudul Menjelang Pagi (Balai Pustaka, 1994) merupakan kumpulan cerpen pertamanya yang diterbitkan. Kecintaannya akan buku juga membuatnya mendirikan toko buku 'Tobuki, Toko Buku Kita' di sebelah rumahnya. "Saya ingin menjadi seperti Virginia Woolf," jawab Ratna, jika diberi kesempatan untuk mengulang waktu. "Dan, karena itu, saya ingin lebih tekun menulis...," imbuhnya. Virginia Woolf adalah penulis Inggris dan tokoh feminis. Selain menulis, Ratna juga mendirikan organisasi dan kerap berdiskusi dengan aktivis, seniman dan mahasiswa di Kota Malang.Hingga pada tahun 2011, Ratna terserang stroke dengan komplikasi penyakit jantung dan paru-paru hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 28 Maret 2011 di RS Saiful Anwar, Malang. Ratna meninggalkan novel yang belum selesai dan belum berjudul mengenai romantika aktivis di era reformasi tahun 1998.
Tokoh difabel hebat selanjutnya adalah M. Ade Irawan, seorang penyandang tunanetra. Dengan keterbatasan dan ketidaksepurnaanya, dia mempertajam penggunaan indera-indera lainnya. Ade lahir dari pasangan Endang Dewi Mardeyani dan Irawan Subagyo pada 15 Januari 1994 di Colchester, Inggris. Kendati sempat terguncang, orang tua Ade menerima kondisi Ade dan selalu mendukungnya. Ibundanya, Endang, pada penghujung 1995 mendapatkan beasiswa master di universitas ternama di New York, AS hingga 1999, dan mendapati putra kecilnya aktif dan senang meraba-raba alat musik perkusi seperti kendang. Kembali ke Indonesia tahun 1999, Ade yang saat itu diajak orang tuanya jalan ke mal, Ade menekan tuts piano dan berbunyi. Spontan, Ade langsung meminta dibelikan alat musik itu. Satu keyboard Casio pun mulai menjadi teman Ade saat usia 7 tahun. Ade kemudian mengagumi musisi jazz George Benson dan setahun kemudian, dia memutuskan memilih jazz sebagai musik pilihannya. Bakatnya semakin terasah saat mengikuti ibundanya yang bertugas di Chicago, AS tahun 2004. Chicago merupakan tempat para berkumpul musisi blues dan jazz di dunia. Ibu Ade kemudian sering membawa putranya bermain di kafe-kafe dan untuk bertemu teman-teman sesama musisi. Menginjak usia belasan tahun permainan piano Ade makin luar biasa dan tampil di Chicago Winter Jazz Festival pada tahun 2006 dan 2007, saat usianya 12 tahun. Ade juga mengkuti audisi khusus dengan musisi jazz Amerika Serikat, seperti Coco Elysses-Hevia, Peter Saxe, Ramsey Lewis, John Faddis, Dick Hyman, Ryan Cohen, dan Ernie Adams. Ade mempelajari huruf braille Farnsworth School plus pianis tetap pada acara musik di sekolah itu dan di Jazz Links Jam Session (Jazz Institute of Chicago) di Chicago Cultural Center. Musisi jazz dalam negeri seperti Idang Rasjidi, Indra Lesmana, Bubi Chen hingga bos Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana juga memberinya perhatian. Jaya membuatkan Ade pagelaran resital tunggal pada Juni 2010 l, dan menjulukinya Ade 'Wonder' Irawan, merujuk musisi tunanetra, Stevie Wonder. Ade juga menjadi penampil pada Java Jazz Festival 2010. Berulang kali dia diundang untuk mengikuti jam session bersama musisi-musisi jazz di negeri Paman Sam. Salah satunya di World Stage Community yang merupakan komunitas jazz kulit hitam kondang di Los Angeles, Amerika dan dia satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Ade telah melanglang buana dan membuktikannya kepada dunia bahwa dia adalah pianis handal walaupun berkebutuhan khusus.
Difabel dengan segudang prestasi selanjutnya adalah Angkie Yudistia, penyandang tunarungu sejak usia 10 tahun namun hal itu tak membuatnya menyerah dalam menjalani hidup. Meski berat, ia mampu menyelesaikan pendidikannya di sekolah umum sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Keterbatasan Angkie itu menimbulkan banyak masalah selama belajar di SD hingga SMA. Tak jarang ia mengaku sering kali menerima cacian dan hinaan.  Ketika itu, rasa malu memang membuat Angkie menutupi jati dirinya sebagai penyandang tunarungu. "Dulu aku diledekin, dikatain budek, tuli itu sering banget di lingkungan," ungkapnya seperti dikutip dari detikhot, Selasa, 8 Mei 2012 lalu. Angkie kemudian menyelesaikan studinya di jurusan periklanan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta, dan lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,5. Di kampus yang sama, Angkie bahkan telah meraih gelar master setelah lulus dari bidang komunikasi pemasaran lewat program akselerasi. Semasa kuliah, Angkie pun selalu aktif dalam berbagai kegiatan. Ia merupakan finalis Abang None mewakili wilayah Jakarta Barat pada 2008. Selain itu ia juga berhasil terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, serta Miss Congeniality dari Natur-e, serta berbagai prestasi lainnya. Bungsu dari dua bersaudara itu pernah pula berkarier sebagai humas di berbagai perusahaan. Berbagai prestasi dan semangatnya itulah yang pada akhirnya membuat Angkie tergerak untuk memotivasi para penyandang difabel lainnya. Angkie mulai terlibat dengan kegiatan sosial saat bergabung dengan Yayasan Tunarungu Sehijara pada 2009. Sejak saat itu hingga kini, ia pun kerap jadi pembicara dan menjadi delegasi Indonesia di berbagai kegiatan internasional di mancanegara yang berkaitan dengan kaum difabel. Di usianya yang masih 25 tahun, Angkie sudah menjadi founder dan CEO (chief executive officer) Thisable Enterprise. Perusahaan yang didirikan bersama rekannya itu fokus pada misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias difabel (Different Ability People). "Di balik keterbatasan pasti ada kelebihan. Walaupun aku terbatas mendengar, bukan berarti harus terbatas melakukan apapun. Aku ingin menunjukkan semua batas harus ditembus, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," ungkapnya seraya tersenyum. Kepeduliannya itu pun terus berlanjut dengan meluncurkan buku berjudul 'Invaluable Experience to Pursue Dream' (Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas) akhir 2011 lalu. Pengalaman hidup dan pemikirannya dituangkan lewat karyanya itu. "Buku itu bukan hanya ditujukan untuk penyandang difable saja, tapi juga teman-teman lainnya yang normal. Kita memang beda, tapi bukan untuk dibedakan," sambungnya menegaskan.
Setiap manusia selalu menginginkan keberhasilan dan keberuntungan baik fisik, psikis, finansial, kecukupan hidup di dunia, dan lainnya namun sebagian dari mereka terkadang tidak mendapatkan keberuntungan tersebut karena sudah sudah menjadi garis hidup dan takdir dari sang pencipta. Bagi orang-orang yang penuh akan semangat, keterbatasan bukanlah alasan untuk menghambat terwujudnya keberhasilan itu. Mereka telah menunjukkan dan membuktikan kepada dunia dengan beragam prestasi yang begitu membanggakan dan bahkan tetcatat dan diakui dunia seperti Ratna Indraswari Ibrahim, seorang penulis dan sastrawan yang hebat walaupun dengan kelumpuhan dan kecacatan kakinya, M. Ade Irawan, penyandang tunanetra yang menjadi pianis handal kelas dunia, dan Angkie Yudistia dengan segudang prestasi walaupun memiliki keterbatasan dalam pendengaran. Tokoh-tokoh difabel tersebut adalah contoh dan bukti bahwa keterbatasan tidak menjadi hambatan dalam mewujudkan impian. Kekurangan yang dimiliki bukan menjadi bahan peratapan nasib dan penyesalan keadaan namun mereka menjadikannya sebagai kekuatan untuk bangkit, berjuang, bersaing, berprestasi, berkarya dan menunjukkannya kepada dunia bahwa mereka bisa dan mampu menjadi kepercayaan dunia dengan peikiran serta pencapaian yang bisa dikatakan genius.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Lestari, Dwi Sri (2015). Penyesuaian Sosial pada Mahasiswa Difabel Rungu. Yogyakarta:UIN Sunan Kalijaga.
2.    KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
3.   http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Ratna_Indraswari_Ibrahim | Ensiklopedia Sastra Indonesia - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
4.    https://www.liputan6.com/news/read/3058562/ade-irawan-terlahir-buta-kini-jadi-pianis-kelas-dunia

Puisi: Kesetiaan


Hangatnya pagi ini ditemani merdunya kicauan burung kenari
Terbuka kedua mata ini tersilaukan cahaya sang mentari
yang menembus kaca jendela kamar ini
Tepat di sampingku sesosok bidadari tersenyum mesra dengan hati berseri
Ialah istriku yang selalu setia menemani

Bidadariku...
Kau masih tetap cantik sama seperti saat pertama kali berjumpa
Kau masih penuh akan rasa kasih dan cinta
Kaulah istriku yang paling cantik yang selalu kusayang dan kucinta

Meskipun raga tak lagi muda
Rambutpun memutih jua
Kuli-kulit yang semakin menua
Kau tetap setia dengan janji yang pernah terikrar
di kala rasa kita menyatu menjadi satu cinta yang sakral
Sebagai pengikat jiwa dan raga kita

Istriku...
Bersama dengan meningginya sang surya
Dan cahaya pagi yang mulai ketara
Serta jiwa-jiwa yang melangkah untuk bekerja
Mari kita mulai pagi ini dengan tetap saling setia

Genggam erat kedua tanganku
Rangkul aku dengan dekapan hangatmu

Bidadariku...
Maukah engkau terus menemaniku
Dan selalu bersinar di kala mata ini terbuka di setiap pagi hariku
Dengan senyuman indah dan paras ayumu
Dengan sentuhan dan cinta kasihmu

Janji ini akan selalu bersemayam di lubuk hati
Kan ku pegang kesetiaan ini
Kan kujaga dengan sekuat jiwa dan raga ini
Bahkan jika kita tak lagi berpijak di bumi ini
Kan kutunggu kau di surga nanti 
Melanjutkan kisah cinta ini

Essay: Love is?


Love is an amazingly confusing word. We can put it in nouns, adjectives, or adverbs. In  noun, love is usually described with a heart shape. So, we can see and touch it In adjectives, love is usually described with feelings of the heart. So, we can feel it. In adverbs, love is usually described with a relationship. So, We can know it.
Love also can be proved by the five senses. If we sight love, we will sight something beautiful or bad. If we taste love, we will taste something sweet, bitter, sour, or spicy. If we touch love, we will touch something smooth or rough. If we smell love, we will smell delicious or bad smell. If we hear a love, we will hear something melodious or badly.
Love is very confusing. If we define what the meaning about love, we will get millions of meaning and even more. But the different of meaning about love will make it as  something that will and must be possessed by everyone in this world.